Kamis, 07 Juni 2012

makalah suku minahasa


                              makalah
      SUKU MINAHASA



DISUSUN OLEH :

1.                AHMAD ROIHAN
2.                FAJAR EKO PURNOMO
3.                OVAN NUARI

KELAS: XI IPS4
MATA PELAJARAN: SOSIOLOGI



SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1
PURBOLINGGO-LAMPUNG TIMUR
TAHUN AJARAN 2011/2012


HALAMAN PENGESAHAN

Makalah  ini telah diperiksa dan di sahkan oleh Guru pembimbing pada :

Hari / Tanggal     : Rabu, 8 Febuari 2012

Tempat                : SMA N 1 PURBOLINGGO




Disahkan Oleh
Guru pembimbing
SMA N 1 PURBOLINGGO
LAMPUNG TIMUR



Mengetahui



Guru Pembimbing





SRI PUJI LESTARI A.nt
      Nip:

       
                    KATA PENGANTAR

Puji syukur pada allah SWT karena rahmat dan izinNya kami telah dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Minahasa” ini tepat waktu.
Selanjutnya shalawat dan salam Penulis mohonkan kepada ALLAH SWT semoga tetap tercurahkan buat Nabi Muhammad SAW atas perjuangan beliau dalam membawa kita dari zaman jahiliyah kepada zaman ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini. Makalah ini disusun sedemikian rupa dan sebaik baiknya.

Selanjutnya penulis menyadari  dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya jadi kami berharap adanya kritik dan saran yang bersifat membangun agar dilain waktu jika kami membuat makalah lagi bisa membenarkanya.

Akhirnya Penulis menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam memberikan saran dan masukan sehingga tugas ini dapat Penulis selesaikan dan semoga bermanfaat  Pembaca sekalian.



Penulis













                


    DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………....        i
HALAMAN PENGESAHAN...................................................................    ii
KATA PENGANTAR………………………………………………….         iii
DAFTAR ISI……………………………………………………………         iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Pengertian suku Minahasa…………………………………….. 1
1.2            Asal usul Minahasa........................................................................     1
1.3            Luas tanah air Minahasa..............................................................      1

BAB II
    ISI
2.1
Sejarah suku minahasa.....................................................................     2
2.2 kekerabatan........................................................................................    2
2.3 kepercayaan........................................................................................    6
2.4 mata pencaharian...............................................................................    9
2.5 pemerintahan......................................................................................    10
2.6 bahasa..................................................................................................   11
2.7 kesenian...............................................................................................    12
2.8 gambar rumah adat, pakaian dan senjata tradisional....................     15
2.9 upacara adat......................................................................................     18
2.10 Sejarah Cara penguburan suku minahasa……………………. 20
2.11 "Manguni" Burung Ajaib Yang Dianggap Suci Oleh Suku Minahasa…… 21


BAB III
    PENUTUP
3.1 Kesimpulan.........................................................................................    23
3.2 Saran...................................................................................................    23

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................     24

 
Text Box: BAB
      I
PENDAHULUAN

1.1PENGERTIAN  SUKU MINAHASA
Minahasa
berasal dari kata dasar “ESA” yang berarti “Satu”. Minahasa berkembang dari Malesung ,Maesaan,Minaesaan,Mahasa,Minahasa,yang pada intinya berarti “MENJADI SATU”.Istilah ini dipakai oleh sub-etnis Minahasa yang notabene hidup di ujung utara pulau Sulawesi,untuk pertama kali disebut “MINHASA”(Minahasa) pada abad XVII.
Jadi pada pengertian awal,nama “Minahasa” bukanlah nama etnis melainkan “persatuan” dari sejumlah suku / sub-etnis tersebut. Pada perkembangan selanjutnya,pengertian nama “Minahasa” berubah menjadi sebuah komunitas “Bangsa” atau “Etnis”. Sering kali etnis /bangsa/ suku-bangsa minahasa disamakan dengan “Orang Manado” (=orang dari ex Keresidenan Manado atau ex Afdeling Manado) atau Kawanua (orang atau teman sekampung).
Jenis bangsa minahasa :
Bangsa Minahasa adalah semua orang yang termasuk dalam sub-etnis Malesung :
- Tonsea
- Tombulu
- Tondano / Toulour
- Tountemboan
- Tonsawang
- Ratahan-pasan (Pasan Wangko)
- Ponosakan
- Bantik
- Serta Borgo dan Bawontehu
1.2Asal Usul SUKU MINAHASA anak suku TONSEA
Menurut fakta- fakta penyelidikan kebudayaan dunia dan benda- benda purbakala yang terdapat di Eropa, Afrika, Asia, Amerika, maka manusia diperkirakan mulai menyebar hingga ke pelosok di muka bumi sejak 35 ribu tahun lalu.Di tanah Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti:
Kaum Kuritis yang berambut keriting, Kaum Lawangirung (berhidung pesek).
Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku :Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Suku Bantenan (Pasan,Ratahan),Tonsawang, Suku Bantik masuk tanah minahasa sekitar tahun 1590 . Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang berakar pada bangsa Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll.

1.3LUAS TANAH AIR MINAHASA
Luas tanah minahasa sekitar 5.220 km2 adalah luas keseluruhan kota manado sendiri luasnya 157,26 km2,kota bitung luasnya 304 km2,kota tomohon luasnya 114,2 km2,kabupaten minahasa selatan luasnya 2.120,80 km2 (tahun 2007 kabupaten minahasa tenggara mekar dari kabupaten minahasa selatan dengan luas 710,83 km2. Jadi luas minahasa selatan tinggal 1.409,97 km2,kabupaten minahasa utara luasnya 918,49 km2,sedangkan luas total kabupaten minahasa induk tinggal 2.100 km2. Dengan demikian luas tanah minahasa adalah 1/40 luas pulau sulawesi.

Text Box: BAB
     II

ISI
2.1  SEJARAH SUKU MINAHASA
Orang minahasa yang dikenal dengan keturunan Toar Lumimuut sekitar abad 1 (pertama) pemukiman leluhur terlebih dulu berdiam di sekitar pesisir Likupang, lalu berpindah ke pegununggan Wulur Mahatus, wilayah selatan Minahasa kemudian berkembang dan berpindah ke Nieutakan (daerah sekitar tompaso baru saat ini). Pada masa ini pemerintahan menggunakan sistem kerajaan. Seorang raja bertahta berdasarkan garis keturunan.Sejarah orang Minahasa umumnya di tulis oleh orang-orang asing yang datang ke tanah ini sebagian besar adalah misionaris. Beberapa antaranya: Pdt.Scwarsch, J. Albt. T. Schwarz, Dr. JGF Riedel, Pdt. Wilken, Pdt. J. Wiersma. Terdapat tiga tokoh sentral terkait dengan leluhur orang Minahasa, yaitu Lumimuut, Toar dan Karema.Karema, dimengerti sebagai "manusia langit", dan Lumimuut dan Toar adalah leluhur dan cikal bakal dari orang-orang Minahasa. Manusia awal di Minahasa yang berasal dari Lumimuut dan Toar, tempat semula dari Lumimuut dan Toar serta keturunannya disebut Wulur Mahatus. Kelompok-kelompok awal ini kemudian berkembangan biak dan bermigrasi ke beberapa wilayah di tanah Minahasa.Orang minahasa pada waktu itu dibagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu : Makarua Siow (2x9) : para pengatur Ibadah dan Adat Makatelu Pitu (3x7) : yang mengatur pemerintahan Pasiowan Telu (9x7) : RakyatPembagian golongan berdasarkan keturunan darah. Ketika hadir pemimpin yang semakin lama pemerintahan semakin korup dan sewenang-wenang, maka terjadilah revolusi rakyat yang menggulingkan pemerintahan monarki.

2.2  KEKERABATAN

Masyarakat Minahasa Kuno

Keluarga batih sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat Minahasa di sebut Awu. Istilah itu sebenarnya berarti abu, juga di pakai dalam arti dapur. Sampai sekarang di Minahasa masih banyak di dapati tempat masak terbuat dari kayu atau bambu di isi dengan tanah atau abu.

Dalam hubungan masyarakat, istilah Awu dipakai dalam keluarga batih (rumah tangga) dan di pergunakan banyaknya penduduk di satu kampung. Dalam masyarakat Minahasa kuno sedapatnya seluruh keluarga baik yang sudah menikah atau belum tinggal di satu rumah besar berbentuk bangsal yang di dirikan di atas tiang tiang tinggi. Bangunan di atas tiang tinggi itu erat hubungannya dengan keamanan.
Dalam kunjungan Prof. Reinwardt tahun 1821 ke Tondano dia masih melihat rumah rumah yang tiang tiangnya sekitar dua pelukan orang dewasa. Kemudian laporan Dr. Bleeker pada tahun 1855 menulis bahwa kampung kampung di Minahasa di bangun di atas tiang tiang tinggi dan besar, dan di huni oleh empat keluarga bersama sama.
Menurut ketentuan adat, bila seorang anggota keluarga yang sudah dewasa membentuk rumah tangga baru, maka rumah tangga baru itu mendapat ruangan tersendiri di keluarga pria atau wanita. Ruangan terpisah itu dilengkapi dengan satu tempat masak sendiri, yang berarti yang menempatinya telah berdiri sendiri. Ruangan tempat masak itulah yang di sebut awu. Awu akhirnya di artikan sebagai rumah tangga. Karna itu pulalah orang yang sudah menikah saling menyebut Ka Awu (Ka = teman, kakak).
Anggota Awu terdiri dari ayah, ibu, dan anak anak.
Sebagai kepala dari Awu bertindak si Ama (ayah) dan bila ia meninggal dunia maka si Ina (ibu) yang menggantikannya. Beradanya fungsi kepala di sini dalam tangan sang ayah bukan berarti kekuasaan mutlak pengaturan rumah tangga berada di tangannya. Kepala di sini lebih dititik beratkan pada arti adanya rumah tangga dan kewajiban membela rumah tangga terhadap serangan dari luar. Dalam ketentuan adat untuk pengurusan rumah tangga si Ama dan Ina wajib bermusyawarah untuk mengambil keputusan dan menentukan kebijakan.
Dari perkawinan terbentuklah keluarga besar yang meliputi beberapa bangsal. Menurut kebiasaan, pembangunan bangsal baru harus berdekatan dengan bangsal lama. Hal ini menyangkut pengurusan kepentingan bersama, keamanan, dan masalah lahan pertanian bersama. Kompleks bangsal bangsal ini yang di huni oleh penduduk yang berhubungan kekeluargaan di namakan Taranak. Pimpinan Taranak di pegang oleh Ama dari keluarga cikal bakal yang di sebut Tu'ur. Tugas utama Tu'ur adalah melestarikan ketentuan ketentuan adat, meliputi hubungan antar Awu, mengatur cara cara mengerjakan lahan pertanian yang di miliki bersama, mengatur perkawinan anggota anggota Taranak, hubungan antar Awu dan Taranak sampai dengan mengadili dan menghukum anggota anggota yang bersalah. Tetapi apapun yang dikerjakannya bila hal itu menyangkut keamanan dan prestise Taranak, ia senantiasa minta pendapat dari para anggota Taranak, karena hal itu juga menjadi ketentuan adat.
Berlainan dengan di tingkat Awu yang mana pengurus berada dalam tangan Ama dan Ina bersama sama, pada tingkat Taranak peranan si Ina tidak terlalu menonjol.

Taranak, Roong / Wanua, Walak

Perkawinan perkawinan antara anggota Taranak membentuk Taranak Taranak baru. Bangsal bangsal mulai bertumbuh berkelompok, membentuk kompleks yang semakin luas . Batas penentuan sesuatu Taranak sebagai satu masyarakat hukum mulai menjadi kabur, dan arti Taranak sebagai satu kesatuan menjadi lebih abstrak. Untuk itu sebagai alat identifikasi para penghuni kompleks bangsal, dipakailah kesatuan teritorial. Dengan kata lain fungsi identifikasi mulai bergeser dari bentuk hubungan darah ke bentuk pemukiman.
Akibat proses ini terciptalah kompleks bangsal bangsal dalam satu kesatuan yang di sebut Ro'ong atau Wanua. Wilayah hukum Wanua meliputi kompleks bangsal itu sendiri dan wilayah pertanian dan perburuan sekitarnya yang merupakan milik bersama para penghuni Ro'ong atau Wanua itu. Pemimpin Ro'ong atau Wanua disebut Ukung yang berarti kepala atau pimpinan. Untuk pengurusan wilayah, Ro'ong atau Wanua di bagi dalam beberapa bagian yang disebut Lukar. Pada mulanya Lukar ini dititik beratkan pada keamanan sehingga akhirnya Lukar di ganti menjadi Jaga. Sampai kini di sebagian tempat di Minahasa masih di pakai kata Lukar dalam arti orang orang yang melakukan keamanan di kampung atau di rumah dari lurah.
Para Ukung juga mempunyai pembantu yang di sebut Meweteng. Tugas mereka mulanya membantu Ukung untuk mengatur pembagian kerja dan pembagian hasil dari Ro'ong / Wanua. Pembagian ini sesuai dengan yang sudah disepakati bersama.
Selain itu pula ada pembantu Ukung yang berfungsi sebagai penasihat, terutama dalam hal hal yang sulit dalam masalah adat. Penasihat penasihat seperti ini adalah para tetua yang dihormati dan disegani yang dianggap bijaksana, tidak mempunyai cacat dan dapat dijadikan contoh di dalam Wanua, yang di namakan Pa Tu'usan (yang dapat dijadikan contoh).
Ro'ong / Wanua bertambah dari waktu ke waktu menjadi beberapa Wanua tertentu yang akhirnya disebut Walak.
Para pemimpin Minahasa sejak berabad yang lalu mendasarkan keputusannya pada apa musyawarah atau Paesa in Deken (tempat mempersatukan pendapat). Dari nama itu jelas terlihat bahwa seluruh keputusan yang diambil merupakan hasil dari musyawarah.
Sekalipun demikian faktor dominan yang sering menentukan dalam pengambilan keputusan adalah pendapat dari sang pemimpin. Telah menjadi suatu kelaziman bahwa pada setiap akhir pengutaraan pendapatnya, sang pemimpin senantiasa selalu mengatakan: " Dai Kua?" (bukankah begitu?) dan hampir selalu jawaban dari anggota adalah: " Taintu" (memang begitu). Hal tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa pendapat dari pemimpin adalah pendapat dari sebagian besar dari para anggota.
Sudah menjadi ketentuan bahwa semua ketentuan yang di putuskan harus di ikuti walau pun tidak di setujui oleh sebagian anggota. Sanksi atas penolakan dari Paesa in Deken ini sangat berat, yaitu : pengucilan dari masyarakat . Hukuman ini sangat berat sebab tidak seorang pun dari Taranak yang menghiraukan nasib dari terhukum. Bila ia menjadi incaran musuh, ia tidak dapat mengharapkan untuk mendapatkan pertolongan dari siapapun juga. Ketentuan inilah yang merupakan kewibawaan dari pada para kepala/tu'a di Minahasa pada zaman dulu.
Namun, bila pemimpin bertindak tidak sesuai dengan ketentuan adat atau meresahkan masyarakat maka para anggota masyarakat dengan sekuat tenaga akan menjatuhkan mereka. Hal ini telah di demonstrasikan oleh rakyat Minahasa sewaktu menghadapi para kepala Walak. Atas tekanan rakyat, kompeni dengan segala kekuasaannya tunduk dan memberikan persetujuan penggantian kedudukan.
Pada tahun 1679 Padtbrugge menulis: Diluar musyawarah resmi yang dipimpin oleh para Ukung adapulah musyawarah musyawarah lain orang orang Minahasa. Dan keputusan keputusan hanya dapat di ambil berdasarkan suara terbanyak, tanpa memperhitungkan perbedaan dan pengecualian para peserta; dalam hal ini mereka tidak akan berubah, dan tidak ada satu kekuatan apapun didunia yang dapat menggeser mereka setapak saja, biarpun hal itu akan merugikan dan membawa kehancuran bagi mereka."
Yang di maksud adalah musyawarah yang diadakan di luar para Ukung, bila keputusan atau kebijaksanaan para Ukung yang di anggap oleh bagian terbesar anggota masyarakat bertentangan dengan ketentuan ketentuan, adat istiadat yang berlaku. Sumber kekerasan hati mereka untuk mempertahankan keputusan musyawarah adalah keyakinan, bahwa para dewa ada di pihak mereka. Dalam hal demikian para Ukung telah di anggap telah melanggar peraturan para dewa. Keputusan yang mereka ambil, dan yang telah dimeteraikan dengan sumpah, di artikan bahwa sesuatu yang telah diserahkan kepada dewa yang selalu disebut dalam sumpah itu, bukan sekedar memohon pertolongan.
Dengan demikian sekalipun Paesaan in Deken mengandung benih otoriterisme, dan memberi kesempatan pada seorang pemimpin untuk itu, musyawarah seperti ini (yang di adakan di luar otoritas para Ukung) merupakan peringatan kepada para Ukung untuk tidak menyalahi ketentuan ketentuan adat. Inilah unsur demokrasi yang pernah ada di Minahasa.
Selain itu di Minahasa tidak pernah ada pewarisan kedudukan seorang kepala, bila seorang Tu'ur in Taranak meninggal dunia para anggota Taranak baik wanita maupun pria yang sudah dewasa, akan mengadakan musyawarah untuk memilih seorang pemimpin baru. Dalam pemilihan yang menjadi sorotan adalah kualitas. Bila ada dua orang yang kualitasnya sama dan sebagai ucapan terima kasih kepada pemimpin itu semasa kepemimpinannya. Itu berarti sang ayah dalam masa kepemimpinannya semasa hidupnya adalah pemimpin yang baik.
Kriteria Kualitas yang di perlukan itu ada tiga ( Pa'eren Telu):
1.                            Ngaasan - Mempunyai otak; hal mana dia mempunyai keahlian mengurus Taranak            atau Ro'ong.
2.                            Niatean - Mempunyai hati; mempunyai keberanian, ketekunan, keuletan menghadapi segala persoalan, sanggup merasakan apa yang dirasakan oleh angota lain.
3.                            Mawai - Mempunyai kekuatan dan dapat di andalkan ; seorang yang secara fisik dapat mengatasi keadaan apapun, sanggup menghadapi peperangan .
Dengan demikian, jelas tidak mudah untuk diakui dan dipilih sebagai pemimpin dalam masyarakat Minahasa di masa lampau. Juga jelas bahwa fungsi pemimpin di Minahasa tidak pernah terjadi karena warisan.


Dr. Riedel menulis:
"Di Minahasa, setiap orang dapat di panggil (dipilih) untuk menjalankan pemerintahan. Sesuai dengan adat istiadat di daerah ini, para Paendon Tua, di pilih oleh para Awu. "

Mapalus (tolong menolong)

Dalam Mapalus, prinsip yang sama kelihatan yang mana para wanita memikul cangkul, sekop dll. Ketentuan ini bukan berarti wanita mempunyai kedudukan lebih rendah akan tetapi kaum pria mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan rombongan Mapalus itu, dan mereka di haruskan membawa parang, tombak dan alat perang lainnya.
Ketentuan organisasi Mapalus ini di jalankan dengan ketat sama dengan ketentuan adat lainnya. Pada waktu pembentukan pimpinan (dalam bahasa tontemboan Kumeter), sesudah teripilih, pemimpin harus di cambuk oleh salah satu pimpinan di kampung dengan rotan, sambil mengucapkan "sebagaimana kerasnya aku mencambukmu begitu juga kerasnya kau harus mencambuk anggota yang malas dan pelanggar peraturan".
Dan ketentuan ini masih berlangsung sampai sekarang di beberapa daerah di Minahasa.
Arti Mapalus telah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Pada mulanya dalam masyarakat kuno, Mapalus masih mempunyai arti yang sama dengan gotong royong karena tanah pertanian masih milik bersama. Akan tetapi karena perkembangan masyarakat selanjutnya, dimana milik perorangan telah tercipta dan menonjol, maka arti Mapalus berubah menjadi tolong menolong. Seperti sekarang setiap anggota Mapalus berhak untuk mendapat bantuan dari anggota anggota lain sebagai jasa karena dia sudah membantu anggota lain dalam melakukan pekerjaan baik di sawah, ladang, rumah dll.

Mapalus (tolong menolong). Dalam Mapalus, prinsip yang sama kelihatan yang mana para wanita memikul cangkul, sekop dll. Ketentuan ini bukan berarti wanita mempunyai kedudukan lebih rendah akan tetapi kaum pria mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan rombongan Mapalus itu, dan mereka di haruskan membawa parang, tombak dan alat perang lainnya.
Ketentuan organisasi Mapalus ini di jalankan dengan ketat sama dengan ketentuan adat lainnya. Pada waktu pembentukan pimpinan (dalam bahasa tontemboan Kumeter), sesudah teripilih, pemimpin harus di cambuk oleh salah satu pimpinan di kampung dengan rotan, sambil mengucapkan "sebagaimana kerasnya aku mencambukmu begitu juga kerasnya kau harus mencambuk anggota yang malas dan pelanggar peraturan". Dan ketentuan ini masih berlangsung sampai sekarang di beberapa daerah di Minahasa.
Arti Mapalus telah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Pada mulanya dalam masyarakat kuno, Mapalus masih mempunyai arti yang sama dengan gotong royong karena tanah pertanian masih milik bersama. Akan tetapi karena perkembangan masyarakat selanjutnya, dimana milik perorangan telah tercipta dan menonjol, maka arti Mapalus berubah menjadi tolong menolong. Seperti sekarang setiap anggota Mapalus berhak untuk mendapat bantuan dari anggota anggota lain sebagai jasa karena dia sudah membantu anggota lain dalam melakukan pekerjaan baik di sawah, ladang, rumah dll.

2.3    KEPERCAYAAN
Orang minahasa dahulu kala mempunyai sistem kepercayaan tradisional yang bersifat monotheisme. Agama suku minahasa adalah agama yang memuja adanya satu pencipta yang superior yang disebut Opo Wailan Wangko ,Empung. Agama asli minahasa oleh orang eropa disebut Alifuru,yang memiliki cirri animisme,walaupun hal ini ditolak oleh sejumlah ahli.
Orang minahasa juga mengenal adanya kekuatan semacam dewa,yaitu orang-orang tua yang memiliki kekuatan spiritual maupun yang dihormati dan disegani (para dotu) yang telah meninggal. Mereka ini kemudian disebut sebagai Opo (suku tontemboanmenyebutnya Apo). Sang esa dikenal dengan nama empung,atau Opo Wailan Wangko,Opo Menambo-nembo,Opo renga-rengan,yang bermukim di kasendukan serta dilayani para Opo (dewa).
Disamping dunia manusia di bumi,penduduk percaya ada dunia tengah (kalahwakan) yang didiami para dotu. Para dotu ini menjadi medium manusia di bumi dengan empung di dunia atas. Leluhur awal mempercayai jiwa manusia tidak mati,tapi pergi ke tempat tinggal leluhurnya.
Pada saat bangsa eropa tiba di minahasa,agama Kristen diterima dengan tangan terbuka. Pada mulanya agama Kristen katolik disebarkan oleh misionaris bangsa spanyol dan portugis abad ke 16 dan 17 dan dilanjutkan abad ke 19. Pada saat belanda masuk di minahasa,pemeluk katolik di alihkan menjadi protestan. Penyebaran protestan dilakukan oleh Zendeling (pekabar injil belanda) berkebangsaan jerman dan belanda. Kedudukan kolonial belanda yang bertahan selam 3 abad di minahasa menyebabkan orang minahasa lebih banyak memeluk aliran protestan.
 Unsur-unsur kepercayaan pribumi yang dapat disaksikan pada orang Minahasa yangsekarang secara resmi telah memeluk agama-agama Protestan, Katolik maupun Islammerupakan peninggalan sistem religi zaman dahulu sebelum berkembangnya agama Kristen.Unsur-unsur ini mencakup : konsep-konsep dunia gaib, makhluk dan kekuatan adikodrati(yang dianggap “baik” dan “jahat” serta manipulasinya, dewa tertinggi, jiwa manusia, benda berkekuatan gaib, tempat keramat, orang berkekuatan gaib, dan dunia akhirat).Unsur-unsur religi pribumi terdapat dalam beberapa upacara adat yang dilakukanorang yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa lingkaran hidup individu, sepertikelahiran, perkawinan, kematian maupun dalam bentuk-bentuk pemberian kekuatan gaibdalam menghadapai berbagai jenis bahaya, serta yang berhubungan dengan pekerjaan ataumata pencaharian. Unsur-unsur ini tentu juga tampak dalam wujud sebagai kedukunan(sistem medis makatana) yang sampai sekarang masih hidup.

Dunia gaib sekitar manusia dianggap didiami oleh makhluk-makhluk halus sepertiroh-roh leluhur baik maupun jahat, hantu-hantu dan kekuatangaib lainnya. Usaha manusiauntuk mengadakan hubungan dengan makhluk-makhluk tersebut bertujuan supaya hidupmereka tidak diganggu sebaliknya dapat dibantu dan dilindungi, dengan mengembangkansustu kompleks sistem upacara pemujaan yang dahulu dikenal sebagai na’amkungan atauma’ambo atau masambo.Dalam mitologi orang Minahasa rupanya sistem kepercayaan dahulu mengenal banyak dewa, salah satunya adalah dewa tertinggi. Dewa oleh penduduk disebut empung atauopo, dan untuk sewa yang tertinggi disebut opo wailan wangko. Dewa yang penting sesudahdewa tertinggi ialah karema.Opo wailan wangko dianggap sebagai pencipta seluruh alam dan isinya yang dikenaloleh manusia yang memujanya. Karema yang mewujudkan diri sebagai manusia adalahsebagai penunjuk jalan bagi lumimuut (wanita sebagai manusia pertama) untuk mendapatkanketurunan seorang pria yang bernama to’ar, yang juga dianggap sebagai pembawa adatkhususnya cara-cara pertanian yaitu sebagai cultural hero (dewa pembawa adat).Roh leluhur juga disebut opo, atau sering disebut dotu yang pada masa hidupnyaadalah seorang yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan seperti pemimpin-pemimpinkomunitas besar ( kepala walak dan komunitas desa; tona’as ). Mereka juga dalam hidupnyamemiliki keahlian dan prestasi seperti dalam perang, keagamaan dan kepemimpinan. Adakepercayaan bahwa opo-opo yang baik akan senantiasa menolong manusia yang dianggap sebagai cucu mereka(puyun) apabila mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Pelanggaran yang terjadi dapat mangakibatkan yang bersangkutan akan mengalami bencanaatau kesulitan hidup akibat murka opo-opo, ataupun kekuatan sakti yang diberikan akanhilang. Disamping itu, ada juga opo-opo yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yangtidak baik, seperti untuk mencuri, berjudi dsb.Konsepsi makhluk halus lainnya seperti hantu ialah panunggu, lulu, puntianak, pok- pok dsb yang dianggap berada di tempat tertentu dan pada saat dan keadaan tertentu dapatmaengganggu manusia. Untuk menghadapi hal-hal tersebut sangat dirasakan peranan dariopo-opo yang dapat menghadapi atau mengalahkan mereka atau mengatasi gangguan darimereka.Roh (mukur) orangtua sendiri ataupun roh-roh kerabat yang sudah meninggaldianggap selalu berada di sekitar kelurganya yang masih hidup, yang sewaktu-waktu datangmenun jukkan dirinya dalam bentuk bayangan atau mimpi atau dapat pula melalui seseorangsebagai media yang dimasuki oleh mukur sehingga bisa bercakap-cakap dengan kerabatnya.Mukur yang demikian tidak dianggap berbahaya malahan bisa menolong kerabatnya.Kepercayaan orang Minahasa bahwa ada bagian tubuh yang mempunyai kekuatansakti seperti rambut dan kuku. Binatang-binatang yang memiliki kekuatan sakti adalah ular hitam dan beberapa jenis burung, terutama burung hantu (manguni). Untuk tumbuh-tumbuhan yang memiliki kekuatan sakti adalah tawa’ang, goraka (jahe), balacai, jeruk suangidll. Gejala alam seperti gunung meletus dan hujan lebat bersama petir secara terus-menerusdianggap sebagai amarah para dewa. Senjata yang dianggap memiliki kekuatan sakti yangharus dijaga dengan baik adalah keris, santi (pedang panjang), lawang (tombak), dan kelung(perisai). Ucapan berupa sumpah dan kutukan juga dikenal sebagai kata-kata yang dianggapdapat mengakibatkan malapetaka, apalagi kalau yang mengatakannya orangtua, kata-katanyadianggap memiliki kekuatan sakti. Benda-benda jimat baik yang diwariskan orangtua ataupunyang didapat dari walian atau tona’as yang disebut
 paereten
adalah benda-benda yangkesaktiannya dipercaya yang sampai sekarang masih dipakai.Jiwa yang dianggap sebagai kekuatan yang ada dalam tubuh manusia yangmenyebabkan adanya hidup, rupanya memiliki konsepsi yang sama dengan jiwa sesudahmeninggalkan tubuh karena mati atau roh. Konsepsi jiwa dan roh ini disebut katotouan.Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah : gegenang (ingatan), pemendam(perasaan), dan keketer (kekuatan). Gegenang adalah unsure yang utama dalam jiwa.Pada saat sekarang, sesuai dengan aturan-aturan agama Kristen, maka konsepsi duniaakhirat (sekalipun untuk mereka yang masih melakukan upacara-upacara kepercayaan pribumi untuk mendapatkan kekuatan sakti dari makhluk-makhluk halus) ialah surga bagiyang selamat, serta neraka bagi yang berdosa dan tidak percaya.Upacara-upacara keagamaan pribumi masih banyak dilakukan oleh orang minahasasebagai perwujudan untuk mengadakan hubungan dengan dunia gaib atau sebagaikelakuaknreligi atas dasar suatu emosi keagamaan, upacara-upacara itu diantaranya adalah yang biasadilakukan pada malam hari di rumah tona’as atau di rumah orang lain, bisa juga di tempat-tempat keramat seperti kuburan opo-opo, batu-batu besar dan di bawah pohon besar. Padasaat tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di Watu Pinabetengan, tempat dimana secara mitologis paling keramat di Minahasa.Upacara dilakukan pada saat tertentu, misalnya pada malam bulan purnama. Tokohtradisional yang melakukan dan memimpin upacara keagamaan pribumi dikenal dengan namawalian, pemimpin upacara dapat dipegang oleh wanita atau pria.

  Agama-agama resmi yang umum diatur oleh orang Minahasa antara lain Protestan(yang terdiri dari berbagai sekte), katolik dan Islam. Terlepas dari tingkat kepercayaan perseorangan, unsure-unsur religi pribumi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan keagamaan.Misalnya komponen pribumi terpadu bersama komponen Kristen yang diluar upacara-upacara formal Gerejani seperti yang terlihat dalam upacara-upacara dari masa hamil sampaimasa meninggal maupun pada perilaku keagamaan sehari-hari. Sebagaimana yang telahdikemukakan pada contoh sebelumnya dapat dilihat adanya komponen religi pribumi dalamkebudayaan Minahasa yang secara mendalam telah mengalami perubahan melalui jalur-jalur kolonialisme, pendidikan formal, dan kristenisasi maupun jalur-jalur kontak atau difusi budaya lainnya.

2.4   MATA PENCAHARIAN
Di Minahasa, jaringan jalan raya tergolong baik, serta adanyapelabuhan Bitung dan bandara Sam Ratulangi, adanya industri-industrikecil, toko-toko di kota, dan kegiatan-kegiatan ekonomi modern lainnyamemang secara erat berhubungan dengan, dan sangat mempengaruhi,ekonomi pedesaan yang berpangkal pada sektor pertanian rakyat yang masih tradisional. Ekonomi pedesaan di Minahasa mempunyai bentuktersendiri yang menunjukkan adanya perbedaan dari masyarakat-masyarakat pedesaan lainnya, seperti Sangir, Gorontalo, Bolaang Mongondow, Jawa, Bali, dan sebagainya, terutama dari segi sosiobudaya.Namun, pernyataan ini tidak mengabaikan adanya kenyataan-kenyataan variasi intrabudaya di dalam setiap masyarakat etnis ini, bukan hanyaseperti yang dimaksud dengan keragaman pola-pola kegiatan ekonomitersebut di atas tetapi juga keragaman antarlokalitas pedesaan yangdiperlihatkan oleh setiap kegiatan ekonomi karena keragaman subbudaya maupun karena variasi lingkungan fisik yang melahirkan bentukadaptasi yang berbeda-beda. Berbagai prasarana, sarana, dan pranata ekonomi di Minahsa sekarang telah mengalami perkembangan, jauh berbeda dari masa-masa, katakanlah Orde Baru. Jalan, jembatan, dan pengangkutan darat telah cukup berkembang, menyebabkan tidak adalagi desa - yang memiliki peranan ekonomis berarti – yang masihterisolasi. Sekalipun desa-desa secara ekonomis tergolong tidak pentingdengan jaringan jalan yang tidak beraspal, namun dapat dijangkaudengan kendaraan umum. Sekarang, desa-desa terpencil yang yang hanya dapat dicapai dengan gerobak sangat terbatas jumlahnya. Namun peranan gerobak ini masih dapat mencukupi kebutuhan distribusi dan pengankutan keluar desa-desa jenis ini. Rata-rata panjang jalan gerobak(jalan roda) ini sampai pada jalan atau desa lain yang terletak dalam jaringan lalulintas kendaraan bermotor adalah sekitar 5 km, suatu jarakyang relatif singkat. Panjang jalan di kabupaten Minahasa adalah 722.052km; terdiri dari jalan Negara 213,860 km, jalan provinsi 118.075 km, dan jalan kabupaten 390.605 km (BAPPEDA tingkat II Minahasa 1985 : 63).Selain kemajuan sarana dan prasarana pengangkutan darat, bandara SamRatulangi dan pelabuhan samudra Bitung terus mengalamipengembangan dan peningkatan daya tamping pemakai-pemakainyamaupun bagi berbagai kegiatan ekonomi, langsung maupun tidaklangsung.Berbagai pabrik, pertokoan yang menjual barang-barang mewahmaupun kebutuhan sehari-hari, kegiatan-kegiatan perdagangan ekspordan impor antar pulau maupun lokal, dan masih banyak lagi lainnya,kesemuanya tergolong pada kegiatan ekonomi modern, menunjukkangejala-gejala perkembangan ekonomi.

Kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik dipenuhi dengan adanya pembangkit listrik tenaga air pada sungai Tondano di desa Tanggariselain pembangkit listrik tenaga air terjun di Tonsea Lama yang sudahdibangun sejak sebelum Perang Dunia II, yang menyebabkan peningkatanpertumbuhan berbagai industri dan kegiatan ekonomi lainnya. Demikianpula pusat pendayagunaan panas bumi seperti yang terdapat di Lahendong.Dalam sektor pertanian sudah sejak masa sebelum Perang Dunia IIberkembang perkebunan rakyat tanaman industri, terutama kelapa,cengkeh, kopi, dan pala. Perkebunan-perkebunan tersebut terusmengalami peningkatan intensifikasi dan ekstensifikasi dengan metodedan teknologi pertanian modern. Komoditi lain seperti coklat, vanili, jaheputih, dan jambu mete, juga sudah digiatkan secara intensif.Persawahan juga menunjukkan perkembanga dalam peningkatanproduksi padi, misalnya perbaikan dan pembangunan irigasi, penggunaanpupuk dan bibit unggul.
 Pertebatan ikan mas dengan mempraktekkanmetode baru (menggunakan air yang mengalir deras ke dalam tebat-tebat yang terbuat dari semen) sudah dijalankan di banyak desa,terutama oleh petani-petani kaya.Perladangan tradisional (kebun kering) yang umum di MInahasa ialahperladangan jagung, umumnya untuk konsumsi petani sendiri. Bisanyapetani menanam pula dalam kebun jagung berbagai jenis sayur, tanamanbumbu masakan, dan buah-buahan (terutama kelapa, alpukat, papaya, jeruk, nangka, sirsak, jambu biji, jambu air) untuk konsumsi sendiri.Pemerintah Daerah telah mengusahakan peningkatan produksi melaluiKoperasi Unit Desa (KUD).Selain pengembangan perikanan laut yang dilaksanakan oleh perikaniyang berpusat di Aertembaga, terutama penangkapan dan pengolahancakalang. Nelayan tradisional mulai meningkatkan produksi berbagai jenisikan dan binatang laut dengan menggunakan peralatan yang lebih baik. 

Teknologi tradisional dipergunakan pula dalam penangkapan jenis-jenis biotic sumber protein di danau-danau dan sungai-sungai. Desa-desa disekeliling danau Tondano ada segolongan penduduk yang khususmenjalankan kegiatan menangkap berbagai jenis ikan dan binatangdanau. Golongan nelayan ini mengisi sebagian dari kebutuhan proteinhewani yang dapat diperoleh di pasar di kota-kota.Hutan merupakan sumber energi maupun materi untuk berbagaikebutuhab penduduk. Berbagai jenis kebutuhan makanan (binatang dantumbuhan) untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pesta, bersumberdari hutan. Jenis binatang yang umum dimakan ialah babi hutan, tikushutan (ekor putih), dan kalong. Sedangkan yang lainnya jarang dimakankarena sudah tergolong langka atau tidak umum dimakan oleh orangMinahasa seperti rusa, anoa, babirusa, monyet, ular piton, biawak, ayamhutan, telur burung maleo, dan jenis-jenis unggas lainnya. Berbagai jenistumbuhan liar baik yang terdapat di hutan maupun lingkungan-lingkungan fisik lainnya merupakan bahan makanan yang memenuhikebutuhan sayuran, terutama
 Pangi rebung, dan pakis.

Demikian pulahutan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan seperti mangga, Pakoba dan kemiri. Selain itu, enau (tumbuhan ini tumbuh di hutan maupun kebun) merupakan sumber nira sebagai minuman yng terkenal di Minahsa(disebut saguer ), maupun bahan gula merah.Hutan juga merupakan sumber daya untuk berbagai kebutuhan kayusebagai bahan untuk membuat berbagai alat, dan bahan untuk bangunangedung dan rumah. Selain dari pada itu, hutan dan lingkungan fisiklainnya merupakan tempat bertumbuhnya tanaman-tanaman yangmember bahan-bahan untuk berbagai kebutuhan umum, seperti rotan,kayu bakar, dan daun rumbia (bahan atap rumah). Sayang sekali luashutan di Minahasa semakin berkurang terutama karena ekstensifikasiperkebunan cengkeh yang dilakukan oleh penduduk desa dan kota.

2.5 PEMERINTAHAN
Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkatseorang raja sebagai kepala pemerintahan. Kepala pemerintah adalah kepala keluargayang gelarnya adalah Paedon Tu’a atau Patu’an yang sekarang kita kenal dengan sebutanHukum Tua. Kata ini berasal dari Ukung Tua yang berarti Orang tua yang melindungi.Ukung artinya kungkung = lindung = jaga. Tua : dewasa dalam usia, berpikir, sertadidalam mengambil Kehidupan demokrasi dan kerakyatan terjamin Ukung Tua tidak  boleh memerintah rakyat dengan sewenang-wenang karena rakyat itu adalah anak-anak dan cucu-cucunya, keluarganya sendiri Sebelum membuka perkebunan, berunding dahuludan setelah itu dilakukan harus dengan mapalus Didalam bekerja terdapat pengatur  atau  pengawas yang di Tonsea disebut Mopongkol atau Rumarantong, di Tolour disebutSumesuweng.Di Minahasa tidak dikenal sistim perbudakan, sebagaimana lasimnya di daerah lain pada saman itu, seperti di kerajaan Bolaang,Sangir, Tobelo, Tidore dll. Hal ini membuat beberapa dari golongan Walian Makaruwa Siyow (eksekutif ingin diperlakukan sebagairaja. seperti raja Bolaang, raja Ternate, raja Sanger yang mereka dengar dan temui disaat barter bahan bahan keperluan rumah tangga. Setelah cara tersebut dicoba diterapkandimasyarakat Minahasa oleh beberapa walian/hukum tua timbul perlawanan yangmemicu terjadinya pemberontakan serentak di seluruh Minahasa oleh golongan rakyat/Pasiyowan Telu, Alasannya karena, bukanlah adat pemerintahan yang diturunkan OpoToar Lumimuut, dimana kekuasaan dijalankan dengan sewenang-wenang.Akibat pemberontakkan itu, tatanan kehidupan di Minahasa menjadi tidak menentu, peraturan tidak diindahkan Adat istiadat rusak, Perebutan tanah pertanian antar keluargaHal ini membuat golongan makarua/makadua siow (tonaas) merasa perlu mengambiltindakan pencegahan dengan mengupayakan musyawarah raya yang dimotori olehTonaas-tonaas senior dari seluruh Minahasa di Watu Pinabetengan.Luas Minahasa pada jaman ini adalah dari pantai likupang, Bitung sampai ke muarasungai Ranoyapo ke gunung Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayahsetelah sungai Ranoyapo dan Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk wilayah kerajaan Bolaang Mongondow, sampai kira-kira abad ke-14.Dalam musyawarah yang dihadiri oleh seluruh keturunan Toar Lumimuut, memilihTonaas Kopero dari Tompakewa sebagai ketua yang dibantu anggota Tonaas Muntuuntudari Tombulu dan Tonaas Mandey dari Tonsea.mereka bertugas untuk konsolidasi ketigagolongan Minahasa tsb.

2.6 BAHASA
Di Minahasa ada sekitar empat bahasa daerah diantaranya bahasa Totemboan, Tombulu, Tonsea, Bantik, Tonsawang.

Dalam kehidupansehari-hari masyarakat di Kota Tomohon selain menggunakan BahasaIndonesia sebagai bahasa percakapan juga menggunakan bahasa daerahMinahasa. Seperti diketahui di Minahasa terdiri dari delapan macam jenisbahasa daerah yang dipergunakan oleh delapan etnis yang ada, seperti Tountemboan, Toulour, Tombulu, dll. Bahasa daerah yang paling seringdigunakan di Kota Tomohon adalah bahasa Tombulu, karena memangwilayah Tomohon termasuk dalam etnis Tombulu. Selain bahasapercakapan di atas, ternyata ada juga masyarakat di Minahasa dan Kota Tomohon khususnya para orang tua yang menguasai Bahasa Belandakarena pengaruh jajahan dari Belanda serta sekolah-sekolah jamandahulu yang menggunakan Bahasa Belanda. Saat ini, semakin harimasyarakat yang menguasai dan menggunakan Bahasa Belanda tersebutsemakin berkurang seiring dengan semakin berkurangnya masyarakatberusia lanjut.

Bahasa daerah Minahasa terdiri dari:
- Tountemboan
- Tombulu Tonsea
- Toulour (Tondano)
- Tonsawang
- Ratahan
- Pasan
- Ponosakan
- Bantik





2.7  KESENIAN

ALAT MUSIK

Ø  Kolintang
Kolintang adalah instrument musik tradisional yang sudah sangatterkenal di Indonesia. Instrument kolintang telah diketahui sejak jamandahulu dan telah dipopulerkan oleh masyarakat melalui berbagaimacam pertunjukan. Instrument ini semuanya terbuat dari kayu dandisebut "mawenang".

Ø  Musik Bambu

Musik bambu adalah alat musik yang dibuat dari bambu dandimainkan oleh kurang lebih 40 orang. beberapa jenis musik bambuadalah :
v  Musik Bambu Melulu (seluruh instrument terbuat dari bamboo)
v  Musik Bambu Klarinet (sebagian instrument terbuat dari bambu dansebagian dari "bia")
v  Musik Bambu Seng (beberapa instrument terbuat dari bamboo)
v  Musik Bia (instrument terbuat dari bia.)

LAGU DAERAH
- O Ina Ni Keke
- Oh Minahasa

MAKANAN
- Bubur manado
- Ayam rica-rica
- Biakolobi

TARI-TARIAN

Ø  Tari Maowey Kamberu
Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acarapengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasilpertanian terutama tanaman padi yang berlipat ganda/banyak.

Ø  Tari Marambak
Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan, rakyatMinahasa Bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumahdibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasadaerah disebut “rumambak” atau menguji kekuatan rumah baru dansemua masyarakat kampong diundang dalam pengucapan syukur.

Ø  Tari Lalayaan
Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana pemuda-pemudiMinahasa pada zaman dahulu akan mencari jodoh mereka. Tari ini juga disebut tari pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa.

Ø  Tari Kabasaran,Simbol Keberanian Suku Minahasa,
Tari Kabasaran merupakan tari tradisional Minahasa, propinsi Sulawesi Utara. Tarian ini awalnya menjadi tarian perang. Tarian ini ditarikan oleh beberapa orang lelaki Minahasa. Dalam kesehariannya, para penari Kabasaran bertugas sebagai penari dan penjaga keamanan desa di Minahasa. Namun ketika daerah Minahasa terancam oleh serangan musuh, penari Kabasaran menjadi Waranei, prajurit perang. Berdasarkan adat Minahasa, tidak semua lelaki Minahasa dapat menjadi penari Kabasaran. Yang menjadi penari biasanya keturunan dari sesepuh penari Kabasaran. Karena sifatnya yang turun temurun itulah, setiap penari Kabasaran memiliki sebuah senjata warisan. Senjata warisan itulah yang dibawa oleh penari ketika pertunjukan tari Kabasaran dimulai.
Para penari mengenakan pakaian tenun khas Minahasa berwarna merah dan rias wajah yang terlihat garang. Ketika pertunjukan dimulai, gerak tari Kabasaran dipimpin oleh seorang Tombolu, pemimpin pertunjukan. Seorang Tombolu itu dipilih berdasarkan kesepakatan para sesepuh adat.
Ketika pertunjukan berlangsung, tidak tampak sedikit-pun senyum di wajah para penari. Mulai dari awal pertunjukan, gerakan penari Kabasaran terlihat energik dan menggambarkan sifat keprajuritan. Gerakan mereka semakin terlihat dinamis ketika tabuhan gong dan kulintang terdengar begitu keras.
Dengan membawa pedang di tangan kanan dan tombak di tangan kiri, para penari Kabasaran terlihat seperti orang yang hendak berperang. Sesekali, penari Kabasaran mengayunkan kedua senjata yang ada di tangan mereka sambil melompat dan mengayunkan senjata. Mereka-pun memperlihatkan gerakan berjalan maju-mundur dengan penuh semangat. Di daerah Minahasa, gerak tari Kabasaran dijadikan simbol keperkasaan dan keberanian warga Minahasa melawan musuh.
Gerak tari Kabasaran terlihat garang, namun sesaat sebelum pertunjukan usai, para penari Kabasaran menarikan gerak yang terlihat begitu riang. Gerakan di penghujung pertunjukan ini menjadi simbol kebebasan penari Kabasaran dari rasa amarah usai berperang melawan musuh.
Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :
1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat.
2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang.
3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya.

Tari Katrili - ManadoTari Katrili merupakan salah satu kesenian dari Minahasa. Menurut sejarahnya, tarian ini dibawa oleh bangsa Spanyol ketika menjajah bumi Minahasa beberapa tahun silam. Kisahnya, pada waktu bangsa Spanyol itu datang dengan maksud untuk membeli hasil bumi yang ada di Tanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak, mereka menari-nari tarian katrili sebagai ekspresi kegembiraan.
Lama-kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat Minahasa yang akan menjual hasil bumi mereka didalam menari bersama-sama sambil mengikuti irama musik dan aba-aba. Ternyata tarian ini boleh juga dibawakan pada waktu acara pesta perkawinan di tanah Minahasa. Sekembalinya Bangsa Spanyol kenegaranya dengan membawa hasil bumi yang dibeli di Minahasa, maka tarian ini sudah mulai digemari Rakyat Minahasa pada umumnya. Tari katrili termasuk tari modern yang sifatnya kerakyatan.
Maengket adalah tarian tradisional orang Minahasa. Tarian ini telah ada sejak zaman dahulu kala. Sampai saat ini tarian ini masih terus berkembang dan dilestarikan. Tarian ini sudah ada di tanah minahasa sejak orang minahasa mengenal pertanian terutama padi di ladang. Jika dulu nenek moyang minahasa, tarian maengket hanya dimainkan pada waktu panen padi dengan gerakan-gerakan yang hanya sederhana, maka saat ini tarian ini telah berkembang teristemewa bentuk tarinya tanpa meninggalkan keasliannya terutama syair atau sastra lagunnya. tarian maengket ini terdiri dari tiga babak, yaitu maowey kamberu, marambak dan lalayaan. Maowey kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan sebagai bentuk pengucapan syukur kepada Tuhan yang maha esa, karena hasil panen diladang/ di kebun yang berlimpah. Marambak adalah tarian dengan semangat mapalus (gotong royong), dalam hal ini orang mihanasa jika akan membangun rumah selalu bekeraja sama. dan setelah rumahnya selesai di bangun maka akan diadakan “rumambak” atau pesta naik rumah baru. dan semua penduduk di desa di undang untuk naik kerumah untuk menguji kekuatan rumah tersebut. Lalayaan adalah sebuah tari pergaulan pemuda dan pemudi minahasa yang pada zaman dahulu digunakan untuk mencari jodoh.
2.8  GAMBAR RUMAH ADAT, PAKIAN DAN SENJATA TRADISIONAL

Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga didepan rumah. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut dimaksudkan apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya. 1068759330_97679da7f6.jpg
minahasahouse.gif
rumah.jpg 
PAKAIAN ADAT
baju-adat-daerah-sulut.jpg

Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari bajusejenis kebaya, disebut wuyang (pakaian kulit kayu). Selain itu, merekapun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan, yangbahannya terbuat dari tenunan bentenan. Sedangkan kaum pria memakai baju karai, baju tanpa lengan dan bentuknya lurus, berwarna hitam terbuat dari ijuk. Selain baju karai, ada juga bentuk baju yang berlengan panjang, memakai krah dan saku disebut baju baniang. Celana yang dipakai masih sederhana, yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama.Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebayawarna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang(baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak.



Baju Ikan Duyung
Pada upacara perkawinan, pengantin wanita mengenakan busana yangterdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung, terdapat juga sarong motif sarang burung, disebut model salim burung, sarong motif kaki seribu, disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga, disebut laborci-laborci.Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde, mahkota (kronci), kalung leher (kelana), kalung mutiara (simban), anting dan gelang. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung, sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Motif Mahkota pun bermacam-macam, seperti motif biasa, bintang, sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih.Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka, celana panjang, selendang pinggang dan topi (porong). Busanapengantin baju jas tertutup ini, disebut busana tatutu. Potongan bajutatutu adalah berlengan panjang, tidak memiliki krah dan saku. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi, yang terdapat pada hiasantopi, leher baju, selendang pinggang dan kedua lengan baju.

Busana Pemuka Adat 
Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi, potongan baju lurus, berkancing tanpa saku. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju, ujung lengan dansepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. Semua motif berwarnakuning keemasan. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merahyang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko, hanya saja lebih panjang seperti jubah. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. Dilengkapi topi porong nimiles, yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merah hitam dan kuning-emas,perlambang penyatuan 2 unsur alam, yaitu langit dan bumi, dunia danalam baka. Sedangkan Walian Wangko wanita, memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu, kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah, selop, kalung leher dan sanggul.Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet.





SENJATA TRADISIONAL
keris.jpg



2.9 UPACARA ADAT
1. Monondeaga
Upacara adat ini merupakan sebuah upacara adat yang biasa dilakukan oleh suku Minahasa terutama yang berdiam di daerah Bolaang Mongondow. Pelaksanaan upacara adat ini sendiri adalah untuk memperingati atau mengukuhkan seorang anak perempuan ketika memasuki masa pubertas yang ditandai dengan datangnya haid pertama. Secara garis besar, upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan sekaligus semacam uwar-uwar bahwa anak gadis dari orang yang melaksanakan upacara adat ini telah menginjak masa pubertas. Untuk itu, agar kecantikan dan kedewasaan sang anak gadis lebih mencorong, maka dalam upacara adat ini sang gadis kecil pun daun telinganya ditindik dan dipasangi anting-anting layaknya gadis yang mulai bersolek, kemudian gigi diratakan (dikedawung) sebagai pelengkap kecantikan dan tanda bahwa yang bersangkutan sudah dewasa.

2. Mupuk Im Bene
Sebenarnya upacara Mupuk Im Bene itu hakikatnya mirip dengan upacara syukuran selepas melaksanakan panen raya, seperti halnya yang lazim kita saksikan di pulau Jawa ketika menggelar acara mapag sri dan atau munjungan. Dan memang, esensi dari ritual ini sendiri adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala rizki yang mereka dapat, atau yang dalam bahasa setempat disebut dengan Pallen Pactio. Prosesi dari upacara adat ini adalah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut: Masyarakat yang hendak melaksanakan upacara Mupuk Im Bene ini membawa sekarung padi bersama beberapa hasil bumi lainnya ke suatu tempat dimana upacara ini akan dilakanakan (biasanya di lapangan atau gereja) untuk didoakan. Kemudian selepas acara mendoakan hasil bumi ini selesai maka dilanjutkan dengan makan-makan bersama aneka jenis makanan yang sebelumnya telah disiapkan oleh ibu-ibu tiap rumah.
3. Metipu
Metipu merupakan sebuah upacara adat dari daerah Sangihe Talaud berupa penyembahan kepada Sang Pencipta alam semesta yang disebut Benggona Langi Duatan Saluran. Prosesi dari upacara adat ini adalah dengan membakar daun-daun dan akar-akar yang mewangi dan menimbulkan asap membumbung ke hadirat-Nya, sebagai bentuk permuliaan penduduk setempat terhadap pencipta-Nya.

4. Watu Pinawetengan
Kalimat atau istilah Musyawarah untuk mencapai kata mufakat dan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh ternyata bukan hanya monopoli beberapa kaum saja, dan tentu saja itu bukanlah isapan jempol yang tanpa makna. Suku minahasa pun memiliki satu upacara adat yang memang dilaksanakan untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan anatar penduduknya. Upacara adat itu dalam suku Minahasa disebut dengan upacara Watu Pinawetengan. Konon berdasarkan cerita rakyat yang dipegang secara turun temurun, pada zaman dahulu terdapatlah sebuah batu besar yang disebut tumotowa yakni batu yang menjadi altar ritual sekaligus menandai berdirinya permukiman suatu komunitas. Dan konon lagi kegunaan dari batu tersebut merupakan batu tempat duduk para leluhur melakukan perundingan atau orang setempat menyebutnya Watu Rerumeran ne Empung. Dan memang, ketika Johann Gerard Friederich Riedel pada tahun 1888 melakukan penggalian di bukit Tonderukan, ternyata penggalian berhasil menemukan batu besar yang membujur dari timur ke barat. Batu tersebut merupakan tempat bagi para pemimpin upacara adat memberikan keputusan (dalam bentuk garis dan gambar yang dipahat pada batu) dalam hal membagi pokok pembicaraan, siapa yang harus bicara, serta cara beribadat.

Sementara inti dari upacara yang diselenggarakan di depan batu besar itu adalah wata’ esa ene yakni pernyataan tekad persatuan. Semua perwakilan kelompok etnis yang ada di Tanah Toar Lumimut mengantarkan bagian peta tanah Minahasa tempat tinggalnya dan meletakkan di bagian tengah panggung perhelatan. Diiringi musik instrumentalia kolintang, penegasan tekad itu disampaikan satu persatu perwakilan menggunakan pelbagai bahasa di Minahasa. Setelah tekad disampaikan mereka menghentakkan kaki ke tanah tiga kali. Pada penghujung acara para pelaku upacara bergandengan tangan membentuk lingkaran sembari menyanyikan Reranian: Royorz endo.
3                    Pernikahan Suku Minahasa
Proses Pernikahan adat yang selama ini dilakukan di tanah Minahasa telah mengalami penyesuaian seiring dengan perkembangan jaman. Misalnya ketika proses perawatan calon pengantin serta acara "Posanan" (Pingitan) tidak lagi dilakukan sebulan sebelum perkawinan, tapi sehari sebelum perkawinan pada saat "Malam Gagaren" atau malam muda-mudi. Acara mandi di pancuran air saat ini jelas tidak dapat dilaksanakan lagi, karena tidak ada lagi pancuran air di kota-kota besar. Yang dapat dilakukan saat ini adalah mandi adat "Lumelek" (menginjak batu) dan "Bacoho" karena dilakukan di kamar mandi di rumah calon pengantin. Dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan sekarang ini, semua acara / upacara perkawinan dipadatkan dan dilaksanakan dalam satu hari saja. Pagi hari memandikan pengantin, merias wajah, memakai busana pengantin, memakai mahkota dan topi pengantin untuk upacara "maso minta" (toki pintu). Siang hari kedua pengantin pergi ke catatan sipil atau Departemen Agama dan melaksanakan pengesahan/pemberkatan nikah (di Gereja), yang kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Pada acara in biasanya dilakukan upacara perkawinan ada, diikuti dengan acara melempar bunga tangan dan acara bebas tari-tarian dengan iringan musik tradisional, seperti tarian Maengket, Katrili, Polineis, diriringi Musik Bambu dan Musik Kolintang.
Bacoho (Mandi Adat)
Setelah mandi biasa membersihkan seluruh badan dengan sabun mandi lalu mencuci rambut dengan bahan pencuci rambut yang banyak dijual di toko, seperti shampoo dan hair tonic. Mencuci rambut "bacoho" dapat delakukan dengan dua cara, yakni cara tradisional ataupun hanya sekedar simbolisasi.
Lumele’ (Mandi Adat):
Pengantin disiram dengan air yang telah diberi bunga-bungaan warna putih, berjumlah sembilan jenis bunga yang berbau wangi, dengan mamakai gayung sebanyak sembilan kali di siram dari batas leher ke bawah. Secara simbolis dapat dilakukan sekedar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri, kemudian mengeringkannya dengan handuk yang bersih dan belum pernah digunakan sebelumnya.
Upacara Perkawinan
Upacara perkawinan adat Minahasa dapat dilakukan di salah satu rumah pengantin pria ataupun wanita. Di Langowan-Tontemboan, upacara dilakukan dirumah pihak pengantin pria, sedangkan di Tomohon-Tombulu di rumah pihak pengantin wanita. Hal ini mempengaruhi prosesi perjalanan pengantin. Misalnya pengantin pria ke rumah pengantin wanita lalu ke Gereja dan kemudian ke tempat acara resepsi. Karena resepsi/pesta perkawinan dapat ditanggung baik oleh pihak keluarga pria maupun keluarga wanita, maka pihak yang menanggung biasanya yang akan memegang komando pelaksanaan pesta perkawinan. Ada perkawinan yang dilaksanakan secara Mapalus dimana kedua pengantin dibantu oleh mapalus warga desa, seperti di desa Tombuluan.
Apabila pihak keluarga pengantin ingin melaksanakan prosesi upacara adat perkawinan, ada sanggar-sanggar kesenian Minahasa yang dapat melaksanakannya. Dan prosesi upacara adat dapat dilaksanakan dalam berbagai sub-etnis Minahasa, hal ini tergantung dari keinginan atau asal keluarga pengantin. Misalnya dalam versi Tonsea, Tombulu, Tontemboan ataupun sub-etnis Minahasa lainnya. Prosesi upacara adat berlangsung tidak lebih dari sekitar 15 menit, dilanjutkan dengan kata sambutan, melempar bunga tangan, potong kue pengantin , acara salaman, makan malam dan sebagai acara terakhir (penutup) ialah dansa bebas yang dimulai dengan Polineis.
Prosesi Upacara Perkawinan di Pelaminan
Penelitian prosesi upacara perkawinan adat dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Minahasa Jakarta pimpinan Ny. M. Tengker-Rombot di tahun 1986 di Minahasa. Wilayah yang diteliti adalah Tonsea, Tombulu, Tondano dan Tontemboan oleh Alfred Sundah, Jessy Wenas, Bert Supit, dan Dof Runturambi. Ternyata keempat wilayah sub-etnis tersebut mengenal upacara Pinang, upacara Tawa’ang dan minum dari mangkuk bambu (kower). Sedangkan upacara membelah kayu bakar hanya dikenal oleh sub-etnis Tombulu dan Tontemboan. Tondano mengenal upacara membelah setengah tiang jengkal kayu Lawang dan Tonsea-Maumbi mengenal upacara membelah Kelapa.
Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, maka upacara adat dimulai dengan memanjatkan doa oleh Walian disebut Sumempung (Tombulu) atau Sumambo (Tontemboan). Kemudian dilakukan upacara "Pinang Tatenge’en". Kemudian dilakukan upacara Tawa’ang dimana kedua mempelai memegang setangkai pohon Tawa’ang megucapkan ikrar dan janji. Acara berikutnya adalah membelah kayu bakar, simbol sandang pangan. Tontemboan membelah tiga potong kayu bakar, Tombulu membelah dua. Selanjutnya kedua pengantin makan sedikit nasi dan ikan, kemudian minum dan tempat minum terbuat dari ruas bambu muda yang masih hijau. Sesudah itu, meja upacara adat yang tersedia didepan pengantin diangkat dari pentas pelaminan. Seluruh rombongan adat mohon diri meniggalkan pentas upacara. Nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat dinamakan Tambahan (Tonsea), Zumant (Tombulu) yakni lagu dalam bahasa daerah.

2.10  Sejarah Cara penguburan suku minahasa
Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah. Baru sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.
Kemudian di tahun 1870, Suku Minahasa mulai membuat peti mati sebagai pengganti waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Bersamaan dengan itu pula, agama Kristen mengharuskan mayat dikubur di dalam tanah mulai menyebar di Minahasa. Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencarian atau pekerjaan orang tersebut semasa hidup.
Di Minahasa bagian utara, pada awalnya waruga-waruga yang ada tersebar yang akhirnya dikumpulkan pada satu tempat. Saat ini waruga yang tersebar tersebut dikumpulkan di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara, yaitu sebuah desa yang terletak di antara Tondano (ibukota Kabupaten Minahasa) dengan Airmadidi (ibukota Kabupaten Minahasa Utara). Kini lokasi waruga-waruga di Desa Sawangan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Sulawesi Utara.
Tempat ini pun telah dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995.

2.11 "Manguni" Burung Ajaib Yang Dianggap Suci Oleh Suku Minahasa


http://1.bp.blogspot.com/_S0VhH0guG4E/SnKkaGtcbWI/AAAAAAAAAJQ/MIO9L_3b6n4/s400/Barn+Owl+Large.jpg

Burung Manguni atau Burung Tootosik, ada juga sebutan lainnya, tergantung dari daerah Minahasa yang mana, lebih dikenal dengan sebutan Makasiyou (Makasiou), dianggap suci dan ajaib oleh suku Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia.

Namun, umumnya tetap menjadi yang disebut Burung Manguni (mauni : mengamati) yang memang ditugaskan oleh Opo Empung Wangko (Tuhan) untuk selalu memberi petunjuk kepada suku Minahasa dan dianggap suci.

Karena dari burung Manguni ini ada terdapat banyak kekuatan yang dianggap gaib, mungkin sudah banyak dilupakan atau sudah tidak diketahui oleh orang Minahasa. Pada umumnya karena hal ini memang di rahasiakan dan hanya diwariskan lewat lisan saja.

Disaat leluhur suku Minahasa sedang hanyut karena peristiwa air bah dan pada akhirnya reda, mereka disuruh pergi ke tanah yang dijanjikan oleh Opo Empung Wangko.

http://1.bp.blogspot.com/_Kk83Y2luZso/TJuQj_J89CI/AAAAAAAAADI/y4nVyEf_Amg/s1600/I+Yayat+U+Santi.jpeg

Mereka tidak tahu jalan lalu mereka di bimbing oleh Burung Manguni dan pada akhirnya mereka mengerti akan perilaku dari Burung Manguni Makasiyow (Makasiou).
Setiap Manguni melakukan 'hoot'nya nyaring mengalun dan dilakukan berturut 3 kali 9 (Telu Makasiou), maka menjadi pertanda baik untuk menyerang dalam perang dan pasti akan menang.
Tanda ini dipakai juga ketika menemukan tempat awal untuk di tinggali serta bisa juga untuk mengabulkan keinginan seseorang.
3 memiliki arti tiga kekuatan, yakni : Tuhan, Alam, Manusia. Angka 3 itu sendiri mengandung arti 9 kekuatan dari hitungan 3 x 3 = 9. Karena itu, maka Angka Suci orang Manado dari Suku Minahasa, yaitu : 999. Angka sempurna kebalikan dari angka manusia 666, yakni Angka Setan.











Text Box: BAB
   III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan
Minahasa merupakan salah satu suku yang mengutamakan persatuan. Luas tanah minahasa sekitar 5.220 km2,dengan demikian luas tanah minahasa adalah 1/40 luas pulau Sulawesi. Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga didepan rumah. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut dimaksudkan apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya.
Ada satu atraksi budaya minahasa yang sering ditampilkan,yaitu tari kabasaran dimana tari tersebut dijadikan simbol keperkasaan dan keberanian warga minahasa melawan musuh.
3.2 Saran
Diharapkan dengan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi ANAK sma n 1 purbolinggo agar dapat mengaplikasikan nilai-nilai positif dari budaya masyarakat minahasa atau dapat di aplikasikan untuk menjadi pendidik geografi kelak dan dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan, wawasan dan teknologi untuk kedepannya.






















DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar